Menjaga Hati Istri
Dalam Kitab Shaid al-Khathir karya Ibnul Jauzi (halaman 400-401) menceritakan tentang seorang ulama bernama Abu Utsman al-Naisaburi yang dikenal gagah namun miskin. Biografinya juga dicatat oleh Imam al-Dzahaby dalam kitab Siyar al-A'lam wa al-Nubala', juz 15.
Dahulu, Abu Utsman al-Naisaburi adalah seorang ulama yang gagah namun miskin. Ia diminta menikahi seorang gadis dan ia pun menerimanya. Setelah akad nikah, ketika ia masuk ke kamar istrinya, ia mendapati bahwa istrinya adalah seorang wanita yang juling dan pincang.
Namun, wanita itu sangat mencintainya sampai-sampai ia melarang Abu Utsman keluar rumah. Abu Utsman pun menuruti permintaan istrinya demi menjaga hatinya.
Betapapun Abu Utsman tidak suka dengan kondisi tersebut, ia tidak pernah menunjukkan sedikitpun kebencian kepada istrinya.
Abu Utsman menjalani semua itu selama lima belas tahun, hingga akhirnya istrinya meninggal dunia.
Ketika seseorang bertanya kepada Abu Utsman, "Apa amalan terbaik yang pernah Anda lakukan, yang sangat Anda harapkan pahalanya?"
Abu Utsman menjawab, "Tidak ada amalan yang lebih aku harapkan pahalanya selain perbuatanku untuk menjaga hati istriku."
Ia juga menjelaskan bahwa pada masa mudanya, keluarganya berusaha keras untuk menikahkannya, tetapi ia menolak. Kemudian datanglah seorang perempuan yang berkata, "Wahai Abu Utsman, aku sungguh menginginkan dirimu. Demi Allah, aku memintamu agar bersedia menikah denganku."
Perempuan itu mendatangkan ayahnya, seorang laki-laki yang fakir, yang akhirnya menikahkan Abu Utsman dengan anak gadisnya. Perempuan itu sangat bergembira dengan pernikahan tersebut.
Ketika Abu Utsman masuk menemui istrinya, ternyata ia seorang perempuan yang juling, pincang, dan buruk rupa. Karena cintanya yang begitu besar kepada Abu Utsman, ia melarangnya untuk keluar rumah.
Abu Utsman pun tetap tinggal di rumah demi menjaga hati istrinya. Ia tidak menunjukkan sedikitpun kebencian, meskipun seakan-akan ia berada di atas bara api kebencian. Ia menjalani semua itu selama lima belas tahun, hingga akhirnya istrinya meninggal dunia. Tidak ada amalan yang lebih ia harapkan pahalanya selain perbuatannya untuk menjaga hati istrinya.
Kisah ini mengajarkan tentang pentingnya kesabaran, pengorbanan, dan menjaga perasaan pasangan dalam kehidupan berumah tangga.
Wallahu A'lam

No comments:
Post a Comment